Palu - Lisnawati
Ukas (32) merupakan salah satu pengajar di Sekolah Alam Salena, Sulawesi
Tengah. Meski berstatus guru honorer di SMK 4 Kota Palu, dirinya
memiliki tekad dan dedikasi tinggi terhadap pendidikan anak-anak suku
Kaili Unde.
Terletak tidak jauh dari Kota Palu, Kecamatan Ulujadi,
Desa Salena menjadi tempat tinggal anak-anak dari suku Kaili Unde.
Secara geografis desa itu berada di lereng pegunungan dan untuk ke
lokasi tersebut tidaklah mudah.
Lokasi sebenarnya dapat dilalui
menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun rute tersebut
agak berbahaya karena jalanannya yang terjal penuh batu sisa hasil
tambang yang berserakan di jalanan serta harus mendaki aspal yang rusak.
 Guru Honorer tengah mengajari anak-anak Suku Kaili Unde (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)
|
"Perjuangan
luar biasa pertama masuk ke sana, bahkan anak-anak kecil asyik bermain
di sekitar tambang batu menemani ibunya bekerja," ujar wanita akrab di
sapa Iis dalam acara pameran pendidikan Paud dan Pendidikan Masyarakat
di halaman kantor Gubernur, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (21/10/2016).
Belasan
anak dengan wajah ceria telah menunggu Iis bersama keempat temannya
yang juga guru honorer. Ino, begitulah cara anak-anak suku Kaili Unde
menyapa mereka.
 Anak-anak suku Kaili Unde tengah belajar (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)
|
"Memang
aneh rasanya karena di tengah kota Palu masih ada masyarakat yang
tinggal dengan kondisi seperti ini. Mereka tidak memakai alas kaki
ketika berjalan dan tinggal di rumah yang terbuat dari anyaman. Dibilang
primitif juga tidak, karena mereka sudah kenal dengan transaksi ekonomi
dengan uang," papar Iis.
Meski terdapat sebuah sekolah formal,
lanjut Iis, namun hanya sedikit dari anak-anak itu yang datang untuk
belajar. Mereka memilih ikut dengan orang tuanya yang bekerja sebagai
penambang batu.
"Waktu itu saya sempat bertanya kepada salah satu
ibu dan mereka bilang dengan bahasa daerah 'Tidak usah anak saya
sekolah, biar mereka seperti saya'," kata Iis menirukan ucapan ibu
tersebut.
 Anak-anak suku Kaili Unde tengah diajari guru (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)
|
Iis
sendiri mengaku bahagia meski ilmu yang diberikan kepada anak-anak suku
Kaili Unde tidak dapat imbalan uang sepeser pun. Baginya melihat
anak-anak itu kembali semangat untuk sekolah dan belajar adalah anugerah
bagi guru.
"Sekarang mereka sudah punya semangat untuk sekolah.
Uang bukan segala-galanya dengan keterbatasan, saya hanya bisa berikan
ilmu bagi mereka," tuturnya.
 Guru Honorer tengah mengajari anak-anak Suku Kaili Unde (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)
|
Sementara
Popy Pusadan, Ketua Divisi Perempuan dan Anak di Yayasan Masangu
Maroso, selaku pencetus sekolah Alam Salena menceritakan, bukan hal yang
mudah untuk bisa sosialisasi dengan suku tersebut. Namun jerih payah
dan keringat yang keluar berhasil meluluhkan hati orang tua dan pemuka
adat setempat.
"Awalnya memang susah, namun kami bersyukur ketika
bertemu dengan RW setempat yang juga memiliki pemikiran sama dengan kami
bahwa pendidikan itu sangat penting, kami pun akhirnya dibantu.
Kemudian kami bisa masuk setelah mendapat ijin dari kepala suku
adatnya," papar Popy.
Popy mengatakan, tercetusnya ide sekolah
alam melihat kondisi desa yang terletak di tengah pengunungan. Kini
sekolah alam Salena telah berjalan selama delapan bulan.
"Di
sekolah alam kami menggunakan metode belajar sambil bermain, itu karena
awalnya mereka sangat susah untuk diajak belajar, tetapi melalui
pendekatan, mereka sudah mau, Sekarang anak-anak sudah punya motivasi
untuk belajar, kami juga tengah mengusahakan agar mereka mau untuk
belajar di sekolah formal," imbuhnya.
Secara terpisah Dirjen Paud
dan Dikmas Kemendikbud Harris Iskandar mengatakan, anak-anak putus
sekolah seperti di Desa Salena punya hak atas Kartu Indonesia Pintar
(KIP) non formal. Pihaknya juga mengharapkan agar data-data anak itu
dapat dikirim ke pusat.
"Pada dasarnya KIP non formal juga
menjaring mereka yang putus sekolah seperti di sekolah alam Salena,
selama mereka memenuhi syarat yaitu usia dari 6 sampai 21 tahun. Kami
berharap dengan adanya KIP ini, motivasi mereka untuk sekolah kembali
bangkit," pungkas Harris.
(edo/rni)